BUNTUT MAKIN PANJANG AKIBAT SEBARKAN HOAX ''MEGAWATI KOMA''

 

Hersubeno Arief Vs PDIP DKI Buntut Hoax 'Megawati Koma'

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 07:30 WIB
DPD PDIP DKI melaporkan Hersubeno Arief soal hoax Megawati koma ke Polda Metro Jaya, Rabu (15/9/2021).
DPD PDIP DKI melaporkan Hersubeno Arief soal hoax 'Megawati koma' ke Polda Metro Jaya (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta - 

Konten Youtube Hersubeno Arief soal 'Megawati Koma' berbuntut panjang. Jurnalis senior itu dilaporkan ke polisi karena diduga menyebarkan hoax terkait Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Hersubeno Arief dilaporkan oleh DPD PDIP DKI Jakarta atas dugaan penyebaran hoax melalui ITE, fitnah dan pencemaran nama baik. PDIP DKI menilai pernyataan Hersubeno Arief melalui kanal Yotube pribadinya.

"Yang kami keberatan itu bahwa terlapor ini menyampaikan bahwa 'Ibu Megawati Soekarnoputri terbaring koma di ICU RSPP. Ada pesan WhatsApp dokter valid 1.000 persen'. Itu kami keberatan di situ makanya kita laporkan," ujar Wakil Ketua DPD PDIP DKI Jakarta, Ronny Talapessy di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (15/9).

Ronny Talapessy bersikukuh menempuh persoalan ini ke ranah hukum, ketimbang ke Dewan Pers meskipun pihak Hersubeno telah menyatakan bahwa konten tersebut merupakan produk jurnalistik.

"Kita kan menggunakan hak hukum. Keperdataan (yaitu) ke Dewan Pers, dan pidana ke kepolisian. Dalam hal ini kita gunakan hak hukum kita maka kita laporkan ke polisi," tegas Ronny.

Laporan PDP DKI terregister dalam tanda bukti laporan bernomor LP/B/4565/IX/2021/SPKT/POLDA METRO JAYA itu, Hersubeno Arief dilaporkan atas dugaan pelanggaran tindak pidana Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 1 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), serta Pasal 15 atau 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

Penggiringan Opini

PDIP DKI menilai pernyataan Hersubeno soal Megawati tidak valid. Pernyataan Hersubeno dinilai sebuah penggiringan opini publik.

"Yang kami soal ini kan omongan Herusbeno yang bilang 'dapat pesan dari dokter Megawati koma di ICU RSPP' dan bilang 'rada-rada yakin' berarti kan sudah menggiring opini publik seolah-olah benar," jelas Ronny.

Hersubeno diminta sebutkan nama dokternya

Diminta Sebutkan Dokternya

Ronny pun kemudian meminta Hersubeno Arief menyebutkan siapa dokter yang dimaksud untuk membuktikan ucapannya itu.

"Itu nanti di penyidikan dibuktikan. Dia (pesan dari dokter) berlindung di situ, mana dokternya, kasih keluar dong dokternya," ucap Ronny.

"Bagaimana pesan yang tidak valid kemudian dikemas oleh saudara Hersubeno seolah-olah benar," lanjutnya.


Hersubeno Tolak Sebutkan Narsum

Sebagai jurnalis, Hersubeno Arief menegaskan dirinya memiliki hak melindungi sumber informasi dan dilindungi Undang-Undang Pers. Hersubeno Arief menolak menyebutkan nama narasumber.

"Ini balik lagi ke UU Pers No. 40 Tahun 1999. Ada hak tolak untuk melindungi narsum," tegas Hersubeno Arief dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (16/9/2021).

Hersubeno kemudian menanggapi pernyataan pihak PDIP DKI Jakarta yang menyebutnya telah menggiring opini publik dalam pernyataan soal rumor kondisi kesehatan Megawati itu. Hersubeno bersikukuh bahwa pernyataannya itu adalah sebuah produk jurnalistik.

Disarankan ke Dewan Pers

Pimred FNN Mangarohan menyayangkan pelaporan PDIP DKI Jakarta terhadap jurnalisnya itu. Dia menilai laporan itu mengganggu kebebasan pers di Indonesia.

"Mengapa menyesalkan langkah hukum? Karena di negara hukum yang berdasarkan Pancasila, masih ada yang tidak mengerti dan memahami aturan perundang-undangan dan hukum, terutama yang mengatur kebebasan pers," katanya.

Selain itu, Mangarohan menyebut konten YouTube-nya itu adalah produk jurnalistik sehingga laporan polisi dari PDIP DKI itu dinilai salah sasaran.

"Bila dianggap ada yang tidak tepat pada pemberitaan sebuah media, hendaknya membawa kasus tersebut kepada Dewan Pers, bukan kepada polisi. Hal itu sesuai dengan MoU antara Dewan Pers dengan Kapolri Nomor 2/DP/MoU/II/2017," katanya.