Kakek Petani di Klaten Terima Ganti Rugi Tol Rp 6 M tapi Justru Galau

 

Kakek Petani di Klaten Terima Ganti Rugi Tol Rp 6 M tapi Justru Galau

Achmad Syauqi - detikNews
Minggu, 19 Sep 2021 15:46 WIB
Paiman (berjenggot) miliarder baru di Klaten ini justru galau usai terima uang ganti rugi proyek Tol Yogya-Solo.
Paiman (berjenggot) miliarder baru di Klaten ini justru galau usai terima uang ganti rugi proyek Tol Yogya-Solo (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten - 

Seorang kakek petani di Klaten, Paiman (67) mendadak menjadi miliarder usai menerima proyek ganti rugi jalan Tol Yogya-Solo senilai lebih dari Rp 6 miliar. Warga Dusun Sidorejo, Desa Beku, Kecamatan Karanganom, Klaten ini justru merasa galau. Ada apa?

"Saya bingung nanti mau kerja apa setelah ada tol. Dulu di depan rumah ada sungai, dekat sungai sawah saya tanami, ada kandang, cari pakan tinggal ambil di sawah, semua dekat tapi besok semua hilang, jadi pusing saya," kata Paiman saat ditemui detikcom di rumah tetangganya, Minggu (19/9/2021).

Paiman mengaku menerima uang tol lebih dari Rp 6 miliar. Duit itu berasal dari pembebasan lahan pekarangan, rumah, dan sawah.

"Saya bukan cuma Rp 4 miliar tapi nerima Rp 6 miliar. Sawah dua patok dapat Rp 4 miliar, terus rumah dan pekarangan kurang lebih Rp 2 miliar," ungkap Paiman.

Paiman menyebut uang ganti rugi yang dia terima itu harus dibagi untuk 12 orang kerabatnya. Baik saudara kandung maupun saudara istrinya.

"Saya itu cuma jadi atas nama menerima uang, nanti dibagi 12 orang. Saya dan saudara ada delapan orang dan empat saudara istri," terang Paiman.

Paiman menyebut uang itu sudah dibagi untuk 12 kerabatnya melalui transfer bank. Dia mengaku menerima Rp 1 miliar dan sudah dibelikan rumah untuk anaknya.

"Sudah dapat rumah. Satu di sini (Dusun Jaten) harganya Rp 600 juta dan di Kolekan Rp 500 juta, sudah rumah jadi tinggal masuk dengan pekarangan, yang satu di Jakarta saya kirim uang," jelas Paiman.

Paiman mengaku ada perasaan suka dan duka saat menerima uang proyek tol itu. Dia mengaku senang karena bisa membelikan anak rumah.

"Senangnya nerima uang banyak, akhirnya bisa mencarke (memberi rumah satu-satu) anak dan tidak satu rumah lagi. Susahnya pekerjaan saya harian hilang," lanjut Paiman.

Paiman mengaku bingung karena kehilangan kesibukannya bertani. Sebab, dia tidak punya anggaran untuk membeli sawah lagi.

"Sawah di sini (Desa Beku) sudah mahal bisa di atas Rp 1 miliar sepatok. Kalau uang masih sisa cukup pengin beli sawah, kalau tidak cukup ya sudah, bagaimana lagi, " imbuh bapak tiga anak ini.

Selengkapnya di halaman berikut...

Hal senada juga disampaikan warga Dusun Mendungan, Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo, Eko Sarwono. Dia mengaku mendapatkan Rp 1,8 miliar.

"Dapatnya sekitar Rp 1,8 miliar dari rumah dan pekarangan seluas 535 meter. Tapi saudaranya kan delapan orang jadi harus dibagi," tutur Eko pada detikcom di rumahnya yang sedang dibangun.

Eko mengaku uang yang dia terima dari proyek tol itu digunakan untuk membangun rumah baru. Dia pun hanya memanfaatkan tanah sisa pekarangannya.

"Saya cuma geser sisa pekarangan, tidak beli tanah. Habis, karena delapan bersaudara kalau dibagi dapat Rp 200 juta, ini saya bangun sudah mau habis Rp 400 juta," terang Eko.

Kades Beku, Kecamatan Karanganom, Alex Bambang menyebut ganti rugi sudah sampai desanya. Paling banyak mendapat uang adalah Paiman.

"Iya Pak Paiman paling banyak. Ada juga yang dapat banyak tapi bukan warga sini, tinggal di Kecamatan Pedan atau Jakarta saya kurang tahu," jelas Alex pada detikcom.