SEDIH MENDALAM!! Pasutri-7 Anak Tinggal di Kolong Angkringan Setelah Diusir dari Kontrakan

 

Pasutri-7 Anak Tinggal di Kolong Angkringan Setelah Diusir dari Kontrakan

Ari Purnomo - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 07:20 WIB
Cahyo dan Wiwin terpaksa mengajak 9 anaknya tidur di warung hik miliknya karena diusir dari kontrakan.
Anak Cahyo-Wiwin bermain di kolong angkringan saat ada pelanggan. (Foto: Ari Purnomo/detikcom)
Sukoharjo - 

Cerita keluarga Cahyo Yulianto dan Wiwin Hariyati menjadi perhatian beberapa hari terakhir ini. Pasangan ini mengajak tujuh anaknya tinggal di kolong gerobak hik atau angkringan setelah diusir dari kontrakan.

Dia biasa membuka lapaknya mulai pukul 06.00 WIB-03.00 WIB. Lapak angkringannya berada di area trotoar, sementara perkakas miliknya diletakkan di lahan kosong di depan SMPN 3 Kartasura, Sukoharjo, Jateng.

Gerobak hik atau angkringan milik Cahyo itu memiliki panjang sekitar 5 meter dengan lebar kurang dari 2 meter. Ada dua gerobak yang ditempatkan berjajar, ditambah satu meja lagi.

Lapak itu tak hanya digunakan untuk berjualan, sekarang juga sebagai rumah bagi keluarganya bernaung. Di bagian bawah meja hiknya itu menjadi tempat tidur seadanya bagi anak-anaknya yang masih kecil.

Terlihat ada tikar dan bantal yang menjadi tempat anaknya merangkai mimpi. Di bawah meja itu mereka juga harus berbagi dengan kotak kardus yang berisi pakaian.

Bagi Cahyo dan Wiwin tidur di warung hik memang sudah biasa, keduanya bahkan mengaku sudah enam tahun tidur di angkringan itu. Akan tetapi, bagi anak-anaknya, tidur baru dijalani empat hari terakhir.

Keluarga ini semula sempat tinggal di sebuah rumah kontrakan yang ada di Colomadu, Karanganyar. Akan tetapi lantaran tidak bisa membayar sewa mereka pun diusir dan terpaksa tinggal di lokasi jualan.

"Sebelumnya anak-anak tidurnya di rumah kontrakan yang ada di Colomadu, Karanganyar," urai Cahyo saat ditemui detikcom di lokasi jualannya, Kamis (16/9/).

Dari 13 anak pasangan itu, 2 di antaranya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Dua anak lain ikut neneknya, dua lainnya lagi sudah bekerja dan memilih tinggal di lokasi bekerja.

Sedangkan 7 anak yang masih kecil-kecil setiap hari tinggal bersama Cahyo dan Wiwin. Mereka tidur di kolong meja angkringan.

"Sesekali 2 anak yang tinggal bersama neneknya juga datang, tapi yang pasti tidur bersama kami di sini setiap malam ya 7 anak itu," ujar Wiwin.

Simak video 'Tak Bisa Bayar Sewa Kontrakan, Pasutri Ajak 8 anaknya Tinggal di Lapak Dagangan':

Selama tinggal di lokasi jualan, untuk kebutuhan mandi dan kakus mereka harus ke SPBU yang berjarak sekitar 200 meter dari warungnya.

"Untuk kesehariannya seperti mandi, mencuci saya harus ke SPBU yang dekat dari sini," ujarnya.

Penghasilan Cahyo dan Wiwin pun tak menentu. Jika beruntung mereka bisa mengantongi penghasilan kotor mencapai Rp 500 ribu sehari.

"Kalau penghasilan bersih paling hanya Rp 100.000, tapi tetap kami syukuri," timpal sang istri.

Tak hanya menjadi keluarga miskin, beberapa anak-anak Cahyo dan Wiwin juga putus sekolah. Anak tertua yang tinggal bersama mereka di warung hik, Kiki (18) baru saja di PHK dari salah satu toko roti tempatnya bekerja.

"Saya tidak lulus SMP, kelas 2 putus sekolah karena tidak ada biaya. Terus nglamar (kerjaan) di toko roti dan bekerja tapi sudah di PHK, sekarang ikut bantu orang tua jualan," terang Kiki.

Tujuh anak ikut tinggal di warung hik itu di antaranya berumur 18, 15, 13, dan 12 tahun. Cahyo mengaku terpaksa membawa anak-anaknya tinggal di pinggir jalan raya yang dilintasi kendaraan berat dengan kecepatan tinggi itu.

"Baru empat hari ini anak-anak saya ajak ke sini, karena tidak ada tempat lain. Dulu punya rumah, tapi sudah dijual dan adanya cuma warung ini," tuturnya.

Selain tidur di kolong meja yang bisa terisi 3-4 anak, anak-anak Cahyo-Wiwin juga ada yang tidur di kursi pembeli. Itu pun jika sedang tidak ada pembeli yang datang.

"Kalau malam anak-anak ada yang tidur di kursi, di kolong meja. Kalau saya sama suami tidur di kursi panjang. Anak-anak tidak ada yang mengeluh, saya bersyukur," imbuhnya.

Kepedihan dan kepahitan itu semakin dirasakan karena sejak empat hari yang lalu 7 anaknya juga ikut tinggal dan tidur bersama di lokasi yang kondisinya sangat terbatas itu.

Wiwin menceritakan bahwa spanduk penutup bagian depan gerobak angkringannya sempat sobek ketika diterpa angin dari truk yang melintas dengan kecepatan tinggi.

"Spanduk yang menutup bagian depan pernah sobek karena ada truk yang lewat. Sobek jadi dua. Kalau kena angin (bagian dalam warung) kelihatan semua," ujar Wiwin. .

Selain itu, kondisi tenda yang menutup bagian warung juga sudah usang sehingga beberapa bagiannya rusak dan bocor saat diguyur hujan. "Kalau pas hujan ya bocor tendanya," ucapnya.

Untuk saat ini, Wiwin mengatakan, yang dibutuhkannya adalah tempat berteduh. Agar ketujuh anaknya itu bisa tinggal lebih nyaman dan tidak tidur di warung angkringan lagi.