Abah Anton, Mantan Wali Kota Malang Kini Jadi Tukang Belah Durian

 

Abah Anton, Mantan Wali Kota Malang Kini Jadi Tukang Belah Durian

Kamis, 18 November 2021 05:03Reporter : Darmadi Sasongko
  •  
  •  


Mantan Wali Kota Malang Abah Anton. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Moch Anton atau Abah Anton menjadi tukang belah durian di Abundacio Coffee and Eatery, sebuah kafe sekaligus lokasi wisata petik durian di Kabupaten Malang. Mantan Wali Kota Malang itu menjadi daya tarik para pengunjung, selain buah durian yang bergelantungan di lahan 4 Ha tersebut.

Pengunjung kafe yang datang rata-rata selain hendak mendem durian, seperti konsep yang ditawarkan, juga menyempatkan diri berfoto dengan empunya kafe. Anton sendiri keseharian memang menjadi 'pelayan' yang membantu memilih sekaligus membukakan (membelah) buah-buah durian itu untuk para pembeli.

"Mereka (pengunjung) senang sekali melihat saya kadang memetikkan, memilih, membukakan, memang yang datang ke sini ya kita manjakan betul. Kalau duriannya dapat yang kurang baik, kita buang, kita berikan durian yang memang sesuai harapan mereka," ungkap Anton dengan senyuman mengembangnya.

Anton membantu memilih durian sebelum ditimbang dan dibayar oleh pembeli. Bagi pembeli yang hendak menikmati duriannya langsung di lokasi, akan dibukakan oleh Abah Anton.

Sebuah tempat di belakang bangunan utama, berukuran sekitar 5 X 10 meter menjadi lokasi tumpukan durian berbagai ukuran. Anton dan istri, Dewi Farida Suryani serta dibantu beberapa orang akan melayani pengunjung yang tidak sekadar ingin membeli durian.

"Alhamdulillah, ramai seperti sekarang ini, setiap hari, seminggu itu hampir 2.000 buah durian. Jadi durian yang langsung metik dan juga ada durian yang kita datangkan," ungkapnya.

Selama melayani, para pengunjung kerap mengajaknya berfoto bersama, bertanya kabar, bahkan mengajak ngevlog. Anton pun sadar kamera dan semua permintaan dengan sabar dilayaninya satu per satu.

Bertani Durian

Awalnya memang sekadar hobi menikmati buah durian, Anton kemudian tertarik mencoba bertani menanam pohon durian. Lokasi lahannya di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dianggap cocok untuk menanam durian, meski di sekitarnya lebih dikenal sebagai pusat buah jeruk.

"Memang di sini adalah ladang pertanian kebun jeruk, saya mencoba buah lain dengan membudidayakan durian," katanya.

Anton memiliki 400 pohon durian di lahan 4 Ha, yang keseluruhannya sudah berbuah dalam beberapa tahun terakhir. Pohon-pohon itu berusia sekitar 10 tahun dan terus mendapatkan perawatan sejak ditanam dari masih batang kecil.

Sejak usia lima tahun, pohon demi pohon sudah mulai bermunculan buahnya. Bahkan khusus varian montong, berbuah dua kali dalam setahun dengan perawatan khusus yang diberikannya.



©2021 Merdeka.com

"Sekarang buahnya sudah besar, tetapi disusul bunga lagi, kelangsungannya berlanjut. Akhirnya sepanjang musim ada buahnya," terangnya.

Varian durian yang ditanam Anton bermacam-macam dari mulai jenis durian lokal matahari, bawor, montong dan kunir. Khusus varian kunir disebut Anton sebagai andalan untuk para pecinta durian yang tidak suka manis.

"Durian kunir ini luar biasa. Kenapa saya namakan durian kunir, karena warnanya persis kunir, kuning sekali. Durianya tidak terlalu manis, warnanya menarik dan cocok bagi penikmat durian tapi tidak suka manis, karena alasan diabetes," urainya.

Wisata Petik Durian

Semula Anton tidak menjual hasil panen kebun duriannya, tetapi lebih untuk keluarga, kerabat atau teman-temannya. Baru belakangan terpikirkan untuk dimanfaatkan dengan melibatkan lebih banyak masyarakat.

"Setiap tahun berbuah itu banyak masyarakat yang datang membeli. Pada waktu itu tidak dijual, hanya untuk teman dan relasi. Itu sekadar saya berikan. Tapi sekarang ini banyak orang yang berminat untuk membeli, ya akhirnya sekalian saya buka untuk kafe di tengah-tengah kebun durian ini," jelasnya.

Anton tidak menyangka mendapat sambutan cukup besar dari masyarakat dengan banyaknya penyuka durian yang berdatangan. Meski berada lumayan jauh dari pusat kota, tetapi sudah banyak yang berdatangan untuk mengunjungi kebunnya.



©2021 Merdeka.com

"Ternyata luar biasa animo masyarakat kita, karena durian ini buah favorit, sangat dicari dan kebetulan sudah dari JakartaSurabaya, Gresik bahkan Banyuwangi yang terkenal duriannya datang ke sini juga," ungkapnya.

Anton memperkenalkan konsep wisatanya itu dengan petik durian montong di Petungsewu dan langkahnya itu menjadi daya tarik masyarakat sekitar. Karena itu Anton juga mengajak petani sekitar untuk ikut menanam durian.

Pelibatan itu sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat untuk dikembangkan bersama-sama. Sekaligus mendukung konsep petik jeruk yang sebelumnya sudah berjalan di masyarakat sekitar lokasi.

"Beberapa masyarakat sudah mengembangkan dan hasil dari masyarakat saya yang mengcover, ditaruh di sini. Saya menjualkan, ini yang sangat saya harapkan, memang ada pemberdayaan masyarakat yang dapat kita ambil, hasilnya jadi uang betul," katanya.

Pengunjung Abundacio dapat menikmati keindahan kebun durian dengan udara alamnya yang sejuk. Buah durian yang bergelantungan menjadi lokasi menarik untuk berfoto para pengunjung.

Spot foto sengaja disiapkan untuk para pengunjung yang ingin berpose memegang atau berlatar belakang buah durian. Pengunjung juga dapat merasakan sensasi mencium dan memetik durian secara langsung dari pohonnya.

"Jadi biasanya dari buah yang ada ini kita nanti kalau sudah kelihatan agak tua, kita tali agar tidak jatuh. Karena kalau sudah masak ini jatuh sendiri, nggantung, masyarakat tinggal ambil, petik saja. Ini namanya petik durian," jelasnya.

Harga duriannya pun cukup variatif dari mulai Rp100 Ribu dapat 3 buah hingga jenis durian montong dengan Rp70 Ribu per Kg. [cob]